Kedudukan Nabi Ibrahim di Antara Ulul Azmi
Kedudukan Nabi Ibrahim di Antara Ulul Azmi adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Al-Burhan Min Qashashil Qur’an. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. pada Senin, 8 Dzulhijjah 1447 H / 25 Mei 2026 M.
Kajian Tentang Kedudukan Nabi Ibrahim di Antara Ulul Azmi
Secara keseluruhan, terdapat lima nabi yang menyandang gelar Ulul Azmi. Urutan pertama adalah Nabi Nuh Alaihissalam, diikuti oleh Nabi Ibrahim Alaihissalam pada urutan kedua, kemudian Nabi Musa Alaihissalam pada urutan ketiga, Nabi Isa Alaihissalam pada urutan keempat, dan ditutup oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pada urutan kelima. Pembahasan mengenai sirah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam nantinya akan diulas melalui kitab khusus tersendiri. Pembahasan pada bagian ini berfokus pada halaman 62 dari kitab Al-Burhan min Qashashil Qur’an yang menguraikan mukadimah mengenai keutamaan-keutamaan Nabi Ibrahim Alaihissalam.
Keteladanan Nabi Ibrahim dalam Akidah Wala dan Bara’
Di antara keutamaan Nabi Ibrahim Alaihissalam yang disebutkan di dalam kitab ini adalah kedudukan beliau sebagai sosok yang dijadikan contoh paling indah oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam hal menerapkan prinsip wala’ (loyalitas) dan bara’ (berlepas diri). Oleh karena keutamaan tersebut, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan seluruh umat Islam untuk beruswah atau menjadikannya sebagai suri teladan.
Kewajiban untuk meneladani Nabi Ibrahim Alaihissalam beserta kaumnya tercantum di dalam Al-Qur’an melalui firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ
“Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: ‘Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja’.” (QS. Al-Mumtahanah[60]: 4)
Lafaz bura’a dalam ayat tersebut merupakan bentuk jamak dari kata bara’. Bentuk mufrad atau tunggal dari kata ini dapat ditemukan pada ayat lain, seperti firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِ إِنَّنِي بَرَاءٌ مِمَّا تَعْبُدُونَ إِلَّا الَّذِي فَطَرَنِي فَإِنَّهُ سَيَهْدِينِ
“Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: ‘Sesungguhnya aku berlepas diri terhadap apa yang kamu sembah, tetapi (aku menyembah) Tuhan Yang Menjadikanku; karena sesungguhnya Dia akan memberi hidayah kepadaku’.” (QS. Az-Zukhruf[43]: 26-27)
Pentingnya Memahami Akidah Wala’ dan Bara’ di Zaman Modern
Prinsip wala’ berarti memberikan loyalitas, kecintaan, dan pembelaan hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, Rasul-Nya, serta orang-orang yang beriman. Sebaliknya, bara’ berarti berlepas diri dari segala bentuk kekafiran, kesyirikan, dan kemaksiatan beserta para pelakunya. Akidah ini merupakan garis pembatas yang sangat jelas untuk membedakan antara seorang muslim dengan orang kafir.
Pada zaman sekarang, pemahaman terhadap akidah wala’ dan bara’ ini sering kali menjadi samar di tengah masyarakat. Banyak umat Islam yang kurang memahami esensinya, apalagi mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari. Pengikisan nilai akidah ini salah satunya dipengaruhi oleh penyebaran paham liberalisme yang kebablasan atas nama toleransi, sehingga batas-batas penting dalam berlepas diri dari kesyirikan menjadi kabur. Nabi Ibrahim Alaihissalam memberikan teladan yang sangat luar biasa mengenai konsistensi dalam menjaga akidah ini, sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan kembali pentingnya menjadikannya sebagai suri teladan yang baik.
Suri teladan yang baik dari Nabi Ibrahim Alaihissalam dalam ayat yang telah berlalu mencakup prinsip bara’, yaitu berlepas diri dari kaum musyrikin dan dari segala sesuatu yang mereka sembah selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ketegasan akidah ini juga digambarkan ketika beliau membatalkan permohonan ampunan bagi ayahnya setelah mengetahui bahwa sang ayah wafat di atas kekafiran. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَمَا كَانَ اسْتِغْفَارُ إِبْرَاهِيمَ لِأَبِيهِ إِلَّا عَن مَّوْعِدَةٍ وَعَدَهَا إِيَّاهُ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُ أَنَّهُ عَدُوٌّ لِّلَّهِ تَبَرَّأَ مِنْهُ ۚ إِنَّ إِبْرَاهِيمَ لَأَوَّاهٌ حَلِيمٌ
“Dan permintaan ampunan dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah dijanjikannya kepada bapaknya itu. Maka, tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri daripadanya. Sesungguhnya Ibrahim itu seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun.” (QS. At-Taubah[9]: 114)
Ayat tersebut menjadi bukti nyata bahwa loyalitas utama Nabi Ibrahim ‘Azza wa Jalla hanya diberikan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, mengalahkan hubungan kekerabatan sedarah sekalipun.
Keteladanan Nabi Ibrahim dalam Al-Istislam (Berserah Diri)
Nabi Ibrahim Alaihissalam juga memberikan contoh yang paling indah dalam hal ketundukan, penyerahan diri, dan penerimaan secara penuh terhadap segala perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Contoh-contoh terbaik dalam kehidupan telah diabadikan di dalam Al-Qur’an dan hadits untuk dijadikan pelajaran.
Bukti ketundukan yang paling besar ditunjukkan ketika beliau diperintahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk membawa istri keduanya, Hajar, bersama putra mereka, Ismail Alaihissalam, menuju sebuah lembah yang gersang dan tidak memiliki tanaman di samping Baitullahil Muharram. Kisah perjalanan bersejarah ini diriwayatkan secara terperinci oleh sahabat Abdullah bin Abbas radhiallahu anhuma:
ثُمَّ جَاءَ بِهَا إِبْرَاهِيمُ وَبِابْنِهَا إِسْمَاعِيلَ وَهِيَ تُرْضِعُهُ حَتَّى وَضَعَهُمَا عِنْدَ الْبَيْتِ عِنْدَ دَوْحَةٍ فَوْقَ زَمْزَمَ فِي أَعْلَى الْمَسْجِدِ
“Kemudian Nabi Ibrahim membawa Hajar dan putranya, Ismail, yang saat itu masih menyusu, hingga beliau menempatkan keduanya di samping Baitullah, di bawah sebuah pohon besar di atas lokasi zamzam, di bagian hulu masjid.” (HR. Bukhari)
Lembah sunyi yang dahulu menjadi tempat Ibu Hajar dan Nabi Ismail Alaihissalam ditinggalkan kini telah berubah menjadi kota suci Makkah. Tempat tersebut sekarang menjadi pusat tujuan umat Islam dari berbagai penjuru dunia untuk melaksanakan ibadah haji dan umrah. Setiap harinya kawasan tersebut selalu ramai dan tidak pernah sepi dari aktivitas ibadah.
Di lokasi tersebut pula mengalir sumber air zamzam yang menjadi mukjizat karena tidak pernah kering atau surut meskipun terus-menerus diambil dalam volume yang sangat besar oleh jutaan manusia setiap harinya. Sumber air zamzam menjadi salah satu tanda kebesaran Allah Subhanahu wa Ta’ala yang masih tampak nyata dan dapat disaksikan sampai sekarang karena airnya tidak pernah habis meskipun dikonsumsi oleh jutaan manusia. Berdasarkan riwayat dari sahabat Abdullah bin Abbas radhiallahu anhuma, pada awal mulanya Nabi Ibrahim Alaihissalam menempatkan istri dan putranya di samping Baitullah, di bawah sebuah pohon besar di atas lokasi zamzam, di bagian hulu masjid.
Kondisi Makkah pada saat itu sangat gersang. Di tempat tersebut belum ada seorang manusiapun yang menetap dan tidak ada sumber air sama sekali. Nabi Ibrahim Alaihissalam bersedia menempatkan keluarganya di lembah yang sunyi tersebut karena tunduk dan taat kepada perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebelum meninggalkan mereka, Nabi Ibrahim Alaihissalam membekali Ibu Hajar dan Nabi Ismail Alaihissalam yang masih bayi dengan perbekalan yang sangat sederhana.
Sahabat Abdullah bin Abbas radhiallahu anhuma menceritakan:
وَوَضَعَ عِنْدَهُمَا جِرَابًا فِيهِ تَمْرٌ، وَسِقَاءً فِيهِ مَاءٌ
“Dan beliau meletakkan di dekat keduanya sebuah kantong kulit berisi kurma dan sebuah wadah kulit berisi air.” (HR. Bukhari)
Hakikat Tawakal dan Kekeliruan dalam Berdalil
Pemberian sekantong kurma dan wadah kulit berisi air tersebut memberikan pelajaran berharga bahwa manusia tetap diwajibkan untuk melakukan ikhtiar atau usaha. Usaha maksimal yang mampu dilakukan oleh Nabi Ibrahim Alaihissalam pada saat itu adalah menyediakan bekal makanan dan minuman seadanya. Kenyataan ini menunjukkan bahwa tawakal yang benar harus disertai dengan usaha semampunya.
Hal ini sekaligus meluruskan kekeliruan sebagian orang pada masa kini yang meninggalkan anak dan istrinya tanpa memberikan nafkah atau pekerjaan yang jelas dengan alasan sedang berdakwah, lalu menyamakan tindakan tersebut dengan apa yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim Alaihissalam. Pemahaman tersebut keliru karena Nabi Ibrahim Alaihissalam bertindak atas dasar wahyu dan perintah langsung dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta tetap memberikan bekal semampunya, bukan karena mengabaikan tanggung jawab keluarga.
Dialog Ibu Hajar dan Keteguhan Nabi Ibrahim Alaihissalam
Setelah menempatkan anak dan istrinya, Nabi Ibrahim Alaihissalam segera membalikkan badan untuk berjalan pergi meninggalkan tempat tersebut. Melihat suaminya pergi, Hajar segera beranjak dan mengejar Nabi Ibrahim Alaihissalam dari belakang.
Dalam suasana penuh keharuan tersebut, Hajar mengajukan pertanyaan yang diabadikan dalam riwayat:
فَقَالَتْ : يَا إِبْرَاهِيمُ ، أَيْنَ تَذْهَبُ وَتَتْرُكُنَا بِهَذَا الْوَادِي الَّذِي لَيْسَ فِيهِ إِنْسٌ وَلَا شَيْءٌ ؟
“Maka ia berkata, ‘Wahai Ibrahim, ke mana engkau hendak pergi dan meninggalkan kami di lembah yang tidak ada manusia dan tidak ada suatu apa pun ini?`” (HR. Bukhari)
Hajar menyampaikan pertanyaan tersebut berulang-ulang dari belakang karena kondisi lembah itu benar-benar sepi, tidak ada manusia, tidak ada fasilitas apa pun, serta tidak ada persediaan makanan dan minuman yang melimpah. Sepanjang perjalanan itu, Nabi Ibrahim Alaihissalam terus melangkah ke depan dan tidak menoleh sama sekali ke belakang. Sikap tersebut diambil bukan karena beliau tidak peduli, melainkan karena beratnya perasaan beliau yang sedang mengamalkan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala, di mana perintah-Nya harus selalu didahulukan di atas segalanya.
Nabi Ibrahim Alaihissalam mengutamakan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala di atas segalanya, sehingga beliau terus melangkah dan tidak menoleh sedikitpun kepada Ibunda Hajar. Melihat sikap suaminya, Ibunda Hajar yang memiliki keimanan yang sangat kuat dan kecerdasan yang tinggi menyadari sesuatu. Beliau segera mengubah pertanyaannya untuk memastikan hakikat dari kepergian sang suami.
Ibunda Hajar mengajukan pertanyaan yang menentukan:
آللَّهُ الَّذِي أَمَرَكَ بِهَذَا قَالَ نَعَمْ
“Apakah Allah yang telah memerintahkanmu dengan hal ini?” Nabi Ibrahim menjawab, “Ya.” (HR. Bukhari)
Nabi Ibrahim Alaihissalam baru memberikan jawaban setelah dipastikan bahwa pertanyaan tersebut berkaitan dengan syariat dan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Setelah mendengar jawaban singkat berupa kata “ya” dari suaminya, Ibunda Hajar menunjukkan tingkat ketawakalan yang sangat luar biasa dengan berkata:
إِذَنْ لَا يُضَيِّعُنَا
“Jika demikian, Dia tidak akan menelantarkan kami.” (HR. Bukhari)
Keyakinan yang sangat mantap dari Ibunda Hajar ini membuktikan kapasitas beliau sebagai seorang wanita salehah. Dari rahim wanita yang salehah dan beriman tinggi seperti inilah, lahir seorang putra yang luar biasa, yaitu Nabi Ismail Alaihissalam, yang kemudian menurunkan keturunan-keturunan yang mulia.
Pentingnya Memilih Istri yang Salehah
Kisah ini memberikan pelajaran penting bagi laki-laki yang hendak membangun rumah tangga untuk mengutamakan faktor agama dalam memilih calon istri. Salah satu hak anak yang harus dipenuhi oleh seorang ayah sebelum anak itu lahir adalah dengan memilihkan ibu yang salehah, yang memiliki akidah, ibadah, dan akhlak yang baik. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah memberikan panduan dalam memilih pasangan hidup melalui sabda beliau:
تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ: لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَلِجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا فَاظْفَرْ بِذَات الدّين تربت يداك
“Wanita itu dinikahi karena empat hal: karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Maka dapatkanlah wanita yang taat beragama, niscaya kamu akan beruntung.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Doa Nabi Ibrahim Alaihissalam di Tsaniah
Setelah dialog tersebut selesai, Ibunda Hajar berbalik dan kembali ke tempat bayinya dengan hati yang tenang. Sementara itu, Nabi Ibrahim Alaihissalam meneruskan perjalanannya yang berat. Beliau terus melangkah hingga tiba di sebuah bukit yang bernama Tsaniah, sebuah tempat di mana anak dan istrinya sudah tidak dapat melihat beliau lagi.
Di tempat tersembunyi itulah, Nabi Ibrahim Alaihissalam membalikkan badannya dan menghadap ke arah Baitullah. Meskipun pada saat itu bangunan Ka’bah belum ditinggikan kembali, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberitahukan lokasi suci tersebut kepada beliau. Nabi Ibrahim Alaihissalam kemudian mengangkat kedua tangannya seraya memanjatkan doa penuh harap dengan kalimat-kalimat yang diabadikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam Al-Qur’an:
رَّبَّنَآ إِنِّىٓ أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَوٰةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِىٓ إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُم مِّنَ الثَّمَرٰتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ
“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah-Mu (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan salat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan rezekikanlah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (QS. Ibrahim[14]: 37)
Umat Islam hendaknya memperhatikan ketundukan dan kepatuhan (istislam) yang luar biasa dari Nabi Ibrahim Alaihissalam terhadap perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ketika Ummu Ismail bertanya mengenai kepastian perintah tersebut, Nabi Ibrahim Alaihissalam memberikan jawaban bahwa hal tersebut merupakan perintah langsung dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Nabi Ibrahim Alaihissalam menunjukkan sikap berserah diri sepenuhnya dengan melaksanakan perintah tersebut, meskipun secara lahiriah terasa sangat berat. Perjalanan dari Syam menuju lembah Makkah sangat jauh, terlebih pada masa itu belum ada sarana transportasi modern seperti pesawat atau mobil, serta tidak ada fasilitas kenyamanan. Jemaah dapat membayangkan beratnya meninggalkan keluarga di tempat yang sunyi tanpa ada seorang manusia pun, dengan hanya berbekal sekantong kurma dan sekantong air. Pembekalan tersebut sekaligus menjadi bentuk tanggung jawab minimal yang masih mampu diusahakan oleh seorang laki-laki kepada istrinya.
Ujian Penyembelihan Nabi Ismail Alaihissalam
Bentuk ketundukan kedua yang sangat agung adalah ketika Allah ‘Azza wa Jalla memerintahkan kekasih-Nya (Khalilullah), Nabi Ibrahim Alaihissalam, untuk menyembelih putranya sendiri, Ismail Alaihissalam. Perintah ini turun ketika sang putra telah mencapai usia yang cukup untuk bisa bekerja dan membantu aktivitas Nabi Ibrahim Alaihissalam.
Sikap yang ditunjukkan oleh Nabi Ibrahim Alaihissalam bukanlah keraguan, melainkan bersegera untuk melaksanakan perintah Allah ‘Azza wa Jalla selaku Pemimpin dan Penciptanya. Kisah mengenai ujian besar ini diabadikan secara terperinci di dalam Al-Qur’an:
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: ‘Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!’ Ia menjawab: ‘Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapati aku termasuk orang-orang yang sabar’.” (QS. As-Saffat[37]: 102)
Nabi Ismail Alaihissalam memberikan jawaban tanpa ada keraguan sedikitpun di dalam hatinya. Panggilan yaa abati (wahai ayahku) yang digunakan oleh Nabi Ismail Alaihissalam merupakan panggilan santun yang serupa dengan kalimat yang pernah diucapkan oleh Nabi Ibrahim Alaihissalam ketika mendakwahi ayahnya dahulu di masa muda.
Meskipun usianya masih muda dan perintah yang dihadapinya adalah mengorbankan nyawa sendiri melalui proses penyembelihan yang menyakitkan, Nabi Ismail Alaihissalam tetap menerima keputusan tersebut dengan lapang dada.
Ujian agung yang dihadapi oleh Nabi Ibrahim Alaihissalam mencapai puncaknya ketika ayah dan anak tersebut berserah diri sepenuhnya kepada ketetapan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Lafaz أَسْلَمَا dalam ayat Al-Qur’an menggunakan bentuk mutsanna (dua pelaku), yang menunjukkan bahwa baik Nabi Ibrahim maupun Nabi Ismail Alaihissalam keduanya telah betul-betul menyerahkan diri mereka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Saat proses tersebut hendak dilaksanakan, pelipis Nabi Ismail Alaihissalam telah diletakkan di atas gundukan tanah oleh Nabi Ibrahim Alaihissalam dan sudah dalam posisi siap untuk disembelih. Pada momen yang sangat kritis itulah, Allah Subhanahu wa Ta’ala menyeru Nabi Ibrahim Alaihissalam. Kejadian tersebut diabadikan di dalam Al-Qur’an:
فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا ۚ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الْآخِرِينَ
“Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggillah dia: ‘Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu’, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian.” (QS. As-Saffat[37]: 103-108)
Kedudukan Mimpi Para Nabi dan Keutamaan Keluarga Ibrahim
Satu hal penting yang wajib dipahami adalah bahwa mimpi para nabi merupakan bagian dari wahyu Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ketentuan ini berbeda dengan mimpi manusia biasa selain para nabi yang bukan merupakan wahyu, sehingga mimpi orang awam tidak boleh dijadikan dalil untuk melakukan tindakan syariat, terlebih jika bermimpi diperintahkan untuk membunuh atau menyembelih anak. Mimpi semacam itu dipastikan berasal dari setan, seperti halnya fenomena ajaran sesat yang menyimpang di mana anggota keluarga saling membunuh.
Ujian yang dialami Nabi Ibrahim Alaihissalam murni merupakan bentuk ujian yang sangat nyata dari Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk menguji sejauh mana tingkat kepatuhan kekasih-Nya. Setelah Nabi Ibrahim Alaihissalam terbukti membenarkan mimpi tersebut dan Nabi Ismail Alaihissalam rida untuk disembelih, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengganti sembelihan tersebut dengan seekor domba atau kambing yang besar.
Melalui peristiwa ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabadikan pujian yang baik bagi Nabi Ibrahim Alaihissalam dan seluruh keluarganya di kalangan orang-orang yang datang belakangan. Nama mereka senantiasa disebut dengan penuh penghormatan dan kisah mereka selalu menggetarkan hati umat Islam. Keutamaan ini mencakup kedua istri beliau, yaitu Sarah dan Hajar, serta putra-putra beliau. Dari jalur Nabi Ishaq Alaihissalam, lahir Nabi Ya’qub Alaihissalam, Nabi Yusuf Alaihissalam, dan para nabi berdarah Bani Israil. Sementara dari jalur Nabi Ismail Alaihissalam, lahir penutup para nabi, yaitu Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Oleh karena itu, Nabi Ibrahim Alaihissalam mendapatkan gelar Abul Anbiya (bapaknya para nabi).
Kelanjutan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala mengenai penghormatan ini ditegaskan pada ayat-ayat berikutnya:
سَلَامٌ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ كَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُؤْمِنِينَ
“(yaitu) ‘Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim’. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.” (QS. As-Saffat[37]: 109-111)
Konsep Menjaga Agama Allah Subhanahu wa Ta’ala
Pelajaran berharga yang dapat dipetik dari sirah Nabi Ibrahim Alaihissalam adalah bahwa setiap hamba yang menghambakan diri secara total, tunduk pada aturan, melaksanakan perintah, serta menjauhi larangan Allah Subhanahu wa Ta’ala, pasti tidak akan pernah disia-siakan oleh-Nya. Segala bentuk syariat dan perintah yang dijaga oleh seorang muslim pada hakikatnya akan membawa kebaikan dan maslahat bagi dirinya sendiri.
Kaidah timbal balik antara kepatuhan hamba dan perlindungan Sang Pencipta ini selaras dengan wasiat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam sebuah hadits:
احْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللَّهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ
“Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya engkau akan mendapati-Nya di hadapanmu.” (HR. Tirmidzi)
Syaikh Al-Utsaimin rahimahullah ta’ala menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan tindakan menjaga Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam hadits tersebut adalah dengan jalan menjaga agama-Nya, yaitu secara konsisten menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.
Lihat juga: Jagalah Allah Maka Allah Akan Menjagamu
Penjagaan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala mencakup aspek jasmani, harta, keluarga, serta seluruh urusan kehidupan. Cara untuk mendapatkan penjagaan tersebut adalah dengan senantiasa menjaga agama Allah Subhanahu wa Ta’ala. Melalui pemahaman ini, dapat disimpulkan bahwa ketika seorang hamba melaksanakan shalat, puasa, zakat, haji, dan berbagai amal kebaikan lainnya, pihak yang membutuhkan ibadah tersebut adalah hamba itu sendiri, bukan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Manusia itu sendirilah yang pertama kali akan merasakan manfaat dan kebaikan dari amal salehnya.
Pelajaran berharga dari hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menegaskan bahwa untuk mendapatkan perlindungan Allah Subhanahu wa Ta’ala, seorang hamba wajib mendirikan shalat, menunaikan puasa, dan meningkatkan ketaatan. Perlindungan tersebut tidak boleh dicari melalui penggunaan jimat, karena tindakan tersebut termasuk ke dalam perbuatan syirik.
Sebagian orang mencari jimat ke berbagai tempat dengan tujuan agar menjadi kuat, kebal, atau demi memudahkan segala urusan, padahal jimat justru dapat mendatangkan kemudharatan. Apabila seorang hamba menggantungkan tawakal kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menyerahkan urusan orang tersebut kepada apa yang dia tawakali. Seseorang yang bertawakal kepada jimat akan ditinggalkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hal ini merupakan sesuatu yang sangat berbahaya, meskipun masih ada sebagian masyarakat yang belum memahaminya.
Keteladanan Nabi Ibrahim Alaihissalam dalam Bertawakal
Nabi Ibrahim Alaihissalam merupakan sosok nabi yang memberikan contoh paling indah dan terbaik dalam hal bertawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Momentum tawakal yang paling besar terjadi ketika beliau selesai menghancurkan berhala-berhala, lalu kaumnya yang murka menyerukan untuk membakar beliau hidup-hidup demi membela tuhan-tuhan mereka.
Tantangan yang mengancam nyawa tersebut dihadapi oleh Nabi Ibrahim Alaihissalam dengan kepasrahan total. Beliau menyerahkan seluruh urusannya hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan mengucapkan kalimat keteguhan yang diabadikan dalam riwayat sahabat Abdullah bin Abbas radhiallahu anhuma:
حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ
“Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.” (HR. Bukhari)
Setelah Nabi Ibrahim Alaihissalam memasrahkan diri, datanglah keputusan dan perintah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sifat dasar api yang panas dan membakar seketika diubah oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadi dingin dan membawa keselamatan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
قُلْنَا يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلَامًا عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَأَرَادُوا بِهِ كَيْدًا فَجَعَلْنَاهُمُ الْأَخْسَرِينَ
“Kami berfirman: ‘Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim’, mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi.” (QS. Al-Anbiya[21]: 69-70)
Hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala semata yang mampu mengubah sifat api menjadi dingin. Para ulama memberikan catatan bahwa apabila Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menyertakan kata salaman (keselamatan) dalam perintah-Nya, Nabi Ibrahim Alaihissalam bisa saja binasa akibat suhu api yang menjadi terlalu dingin.
Peristiwa ini sekaligus meluruskan logika keliru sebagian orang yang meragukan keadilan siksa neraka dengan alasan setan yang tercipta dari api tidak akan merasa sakit jika disiksa di dalam neraka yang juga berupa api. Cara berpikir tersebut keliru karena manusia yang tercipta dari saripati tanah pun tetap merasa sakit apabila dipukul menggunakan tanah padat atau batu bata. Allah Subhanahu wa Ta’ala Mahakuasa untuk menyiksa makhluk-Nya yang membangkang dengan cara apa pun. Segala tipu daya dan makar yang direncanakan oleh kaum musyrikin untuk mencelakakan Nabi Ibrahim Alaihissalam akhirnya berbalik menjadi bumerang, dan Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan mereka sebagai orang-orang yang paling merugi.
Sejarah Kalimat Hasbunallah wa Ni’mal Wakil
Dzikir Hasbunallah wa ni’mal wakil memiliki kedudukan yang sangat agung di dalam Islam. Kalimat ini merupakan ungkapan keteguhan iman dan tawakal yang diucapkan oleh dua nabi mulia, yaitu Nabi Ibrahim Alaihissalam dan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam saat berada di tengah ujian yang sangat besar. Mengenai sejarah kalimat ini, sahabat Abdullah bin Abbas radhiallahu anhuma meriwayatkan:
عَنِ ابنِ عَبَّاسٍ: حَسبُنا اللهُ ونِعمَ الوكيلُ، قالها إبراهيمُ عليه السَّلامُ حينَ أُلقيَ في النَّارِ، وقالها مُحَمَّدٌ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم حينَ قالوا: {إنَّ النَّاسَ قد جَمَعوا لَكُم فاخشَوهم فزادَهم إيمانًا وقالوا حَسبُنا اللهُ ونِعمَ الوكيلُ} [آل عمران: 173]
“Dari Ibnu Abbas radhiallahu anhuma, ia berkata: ‘(Kalimat) Hasbunallah wa ni’mal wakil (Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung) diucapkan oleh Ibrahim Alaihissalam ketika beliau dilemparkan ke dalam api. Kalimat itu juga diucapkan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika ada orang-orang yang berkata kepadanya: Sesungguhnya manusia telah berkumpul untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka, maka perkataan itu malah menambah keimanan mereka dan mereka mengucapkan: Hasbunallah wa ni’mal wakil’. {QS. Ali ‘Imran[3]: 173}” (HR. Bukhari)
Pemaparan mengenai keutamaan dan sifat tawakal Nabi Ibrahim Alaihissalam ini diselesaikan secara bertahap, dan pembahasan materi berikutnya akan dilanjutkan pada pertemuan yang akan datang.
Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 yang penuh manfaat ini.
Download MP3 Kajian
Podcast: Play in new window | Download
Mari turut membagikan link download kajian “Kedudukan Nabi Ibrahim di Antara Ulul Azmi” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.
Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com
Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :
Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv
Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56280-kedudukan-nabi-ibrahim-di-antara-ulul-azmi/